"kau tahu? aku menyukai namja itu" kata Jiyeon sambil tersenyum melihat ke arah segerombolan namja di seberang sana.
"yang mana.. di sana banyak namja yang duduk..." kata Jiyoung sambil memeperhatikan satu persatu namja di sana, sambil berharap Jiyeon tidak menyukai namja yang selama ini disukainya.
"itu, dia yang memakai kemeja berwarna merah.. ah dan satu lagi, dia tinggi.. bukan yang pakai kacamata.. tapi yang berambut hitam kecoklatan itu.." kata Jiyeon sambil tersenyum.
hati Jiyoung seketika mencelos mendengarnya.
"eoh.. geu namja? apa yang kau suka darinya.. dia bahkan terlihat jelek dari sini" kata Jiyoung, mencerca namja yang jelas-jelas disukainya bahkan sebelum ia tahu bagaimana wujud namja itu.
"hyaa apa yang salah dengan matamu?? dia benar-benar tampan.. kau tahu? kurasa kau perlu pergi ke dokter specialist mata terdekat" kata Jiyeon.
"terserah saja.. aku tidak suka namja itu" kata Jiyoung sambil beranjak pergi.
"hyaaa Jiyoung aah eodiseo??? tunggu aku!!" teriak Jiyeon sambil mengekor pada Jiyoung.
malamnya..
Jiyoung hanya duduk termenung di kamarnya. beberapa kali terdengar ketukan dari Ibunya untuk makan malam namun dia benar-benar tidak berselera.
"apa aku salah? aku menyukai namja itu... bahkan jauh sebelum Jiyeon menyukainya... apa aku harus diam dan pura-pura merelakannya??" gumam Jiyoung sembari membuang nafasnya dengan kasar.
"gwencahana... apalah arti dari kebahagiaanku jika temanku merasa sedih, aku tidak apa-apa.. Jiyeon teman yang baik.. aku juga harus baik padanya, aku akan membuang perasaanku secara perlahan sambil memikirkan segala kebaikan Jiyeon padaku" gumam Jiyoung sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Jiyoungaah sampai kapan kau akan berdiam diri di kamar, eoh?? eomma sudah memasak begitu banyak makanan" teriak Donghae, Oppa Jiyoung.
"ne, aku turun" teriak Jiyoung.
Jiyoung pun makan malam bersama keluarganya.
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar